Sunday, 15 July 2012

Ikuti Puncak Harlah Ansor Ke-78, PC GP Ansor Purbalingga Kirim 1165 Kader Penggerak NU


Perbalingga (gp-ansor.org)- Dalam rangka menyukseskan Puncak Hari Lahir GP Ansor yang ke 78, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Purbalingga siap mengirim 1165 Kader Penggerak NU menuju Stadion Manahan Solo, Senin 16 Juli 2012 dengan menggunakan 20 Armada Bus , yang Insya Allah akan dilepas langsung oleh Kapolres Purbalingga, demikian ungkap Ulil Archam ketua PC GP Ansor Purbalingga. Kader Penggerak NU yang dikirim terdiri dari 1085 Banser dan 80 Pengurus Ansor.
Lebih lanjut dikatakan bahwa acara ini menunjukan bahwa kami siap mengawal dan mempertahankan NU dari segala gempuran-gempuran yang dilakukan oleh organisasi Islam transnasional yang mengarah pada pengkafiran dan pemusyrikan amalan-amalan NU. Bukan hanya amalan-amalan NU yang di serang tetapi sudah mengarah pada pengusungan ide khilafah dan pendirian Negara Islam, oleh karenanya kami akan berjuang sekuat tenaga tetap mempertahankan akidah Aswaja Annahdliyah yang telah menyatakan komitmen bahwa NKRI adalah harga mati.

Harlah, GP Ansor Kampanyekan Islam yang Ramah dan Terbuka


Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Nusron Wahid, mengatakan bahwa kegiatan Hari Lahir Ke-78 GP Ansor yang dipusatkan di Kota Solo untuk mengampanyekan Islam yang terbuka dan ramah kepada masyarakat Jawa Tengah.

“Kami sering mendengar Kota Solo, Islam modelnya yang keras-keras saja sehingga perlu mengampanyekan Islam yang ramah moderat, toleran, dan inklusif,” kata Nusron Wahid di Solo, Sabtu.

Saturday, 23 June 2012

Hadratus Syaikh KH M. Hasyim Asy'ari


Jombang l933. Terjadi dialog yang mengesankan antara dua ulama besar, KH Muhammad Hasyim Asy'ari dengan KH Mohammad Cholil, gurunya. "Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan," kata Mbah Cholil, begitu kiai dari Madura ini populer dipanggil. Kiai Hasyim menjawab, "Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya." Tanpa merasa tersanjung, Mbah Cholil tetap bersikeras dengan niatnya. "Keputusan dan kepastian hati kami sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan," katanya. Karena sudah hafal dengan watak gurunya, Kiai Hasyim tidak bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai santri.